“Rumah” Paling Nyaman di Kampus

Sabtu pagi, 25 Februari 2017, studio Radio Kampus EBS FM Unhas tampak berbeda. Ruangan yang terdiri dari tiga studio ini biasanya hanya berisi kurang dari sepuluh kru. Tapi hari itu studio EBS (Education Broadcasting Station) kedatangan lebih banyak orang. Aktifitas pun lebih beragam, selain menyiar tentunya. Ada 2-3 orang yang sibuk menyiapkan kertas-kertas di studio dua. Di sudut lain, studio satu, nampak 4-5 orang tengah sibuk menyiapkan kue. Sekira dua orang keluar masuk studio membawa berbagai perlengkapan. Di depan studio, tampak sekumpulan orang berbincang melepas kerinduan. Pemandangan ini jarang saya temukan. Hanya pada saat EBS melakukan kegiatan saya bisa menjumpai hal seperti ini. Hari itu memang ada hajatan yang berlangsung. Penerimaan Crew Baru (PCB), yang selalu menjadi agenda EBS di awal tahun.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini saya datang tidak untuk menyibukkan diri urus ini itu. Melainkan menjadi bagian orang yang melepas kerinduan dengan teman sejawat. Maklum, setelah dinyatakan demisioner sebagai pengurus Oktober 2015 lalu, kami mulai menata masa depan masing-masing, dan di momen seperti inilah kami bisa bertemu kembali melepas kerinduan.

Satu per satu teman angkatan mulai berdatangan. Saya, Rifa dan Ucu sudah terlebih dahulu datang. Kami mengobrol di depan studio diiringi lagu yang terputar dari radio EBS. Menjelang zuhur Ayu datang. Kemudian disusul oleh Izza. Tak lama kemudian Tari datang melengkapi keramaian personil Agang 13EBS (nama angkatan di EBS) hari itu. Meskipun hari itu masih lebih banyak personil yang tidak datang, tapi kami tetap merasa heboh.

“Tariiiiiiiii” Teriak Ucu.

Maklum, diantara kami berenam, Tarilah yang jarang terlihat batang hidungnya setelah lulus Desember 2016 kemarin.

Spontan kami berteriak sambil bernyanyi “Agang 13EBS bersatu, tak bisa dikalahkan” yang merupakan lagu “nasional” kami ketika berkumpul, tak hanya di studio. Tentu saja ini membuat kegaduhan.

“Ihh ramainya Agang 13EBS, ayo foto studio dule, mumpung banyak ki”. Ajak Tari

“Ayokkkkk” seru yang lain.

Berfoto memang adalah pekerjaan wajib yang harus dilakukan ketika berkumpul dengan teman-teman. Setuju? Setuju dong. Kamipun mengabadikan momen di depan studio.

1698.jpg

6/18  (Dari kiri ke kanan: Ucu, Ayu, Tari, Izza, Rifa, Hamid)

Selang beberapa waktu panitia memanggil untuk mengikuti prosesi PCB di Lt. 8 yang berada di dekat rektorat Unhas (beberapa meter dari studio EBS).

***

EBS akan kedatangan orang baru lagi. Sementara yang lama telah memulai karirnya masing-masing di luar. Bukan hanya orang-orangnya yang terus berganti, studio EBS-pun setiap tahunnya juga selalu berbenah diri agar tetap menjadi tempat yang menyenangkan bagi krunya. Studio yang saya lihat hari ini jauh berbeda dari apa yang saya lihat saat pertama kali mengijakkan kaki di EBS empat tahun silam.

Studio satu yang digunakan sebagai tempat menerima tamu atau hanya sekedar berbincang antarkru dulunya berlatarkan cat warna oranye dan hanya ada tulisan besar EBS yang warnanya mengikuti logo. Namun kini tulisan EBS terlihat lebih kecil dari sebelumnya, disisi kiri atasnya ditambahkan tulisan Since 1988 yang menandakan tahun lahirnya EBS. Menengok ke bawah dari tulisan tersebut,  terdapat tulisan On air didalam kotak persegi panjang berlatar biru dan The starter dengan warna tulisan putih yang berada didalam kotak berwarna merah. Kedua tulisan ini menandakan EBS adalah tempat belajar siaran bagi seorang pemula seperti saya. Masih dari sisi kiri, terdapat gambar kecil piringan hitam lengkap dengan simbol tangga nada dan tak lupa gambar hati.

Disisi lainnya, terdapat gambar kaset yang diapit oleh tulisan On radio we trust and respect di atasnya dan civitas academica di bawahnya. Selain itu, juga terdapat lukisan orang yang sedang menyiar berlatar biru lengkap dengan mic dan headphone yang digunakan. Di bawah tulisan EBS, terdapat empat buah gambar panah dengan model dan warna yang berbeda. Diantara gambar panah tersebut, terdapat tulisan “Penuh Kreasi, Inovasi dan Sarat akan Obsesi” yang merupakan tagline dari EBS.

4506.jpg

Lukisan di studio satu saat ini

Selain gambar dan tulisan tersebut yang langsung kita jumpai ketika memasuki studio satu, beberapa lemari yang dulunya terdapat di studio satu, kini dipindahkan ke studio dua. Pernak-pernih seperti foto dan beberapa sertifikat yang melengkapi suasana studio satu mengalami penambahan. Masih dari pintu masuk studio satu, menegok ke sebelah kiri kita akan menemukan papan jadwal siar yang namanya terus berubah-ubah setiap tahunnya.

Dari pintu studio satu melangkah ke arah sebelah kanan, kita akan menemukan ruangan yang digunakan sebagai tempat siaran atau disebut sebagai studio siar.  Lain studio satu, lain pula studio siar. Jika studio satu mengalami perubahan dari yang hanya berlatarkan tulisan EBS menjadi lebih ramai, studio siar justru sebaliknya.

Empat tahun lalu ketika saya menjadi kru baru, studio siar nampak ramai. Memiliki latar yang sama dengan studio satu dahulu, studio siar dihiasi dengan beberapa kumpulan cover album dari beberapa penyanyi Indonesia ataupun luar negeri yang diletakkan di belakang kursi siar yang membentuk puzzle kotak besar dengan tulisan “Menyiar” di atasnya. Di sisi kanan meja siar, terdapat tiga buah lukisan berbeda yang disusun seperti anak tangga. Beberapa centimeter dari lukisan ini, terdapat papan chart lagu. Di depan meja siar terdapat kaca, sehingga kita bisa melihat studio satu, khusunya papan jadwal siar dari dalam studio siar.

544443_515138365225720_465564796_n.jpg

Studio siar tahun 2013 silam. Tolong abaikan saya XD

Namun kini, studio siar terlihat lebih kalem dengan latar warna biru lengkap dengan tulisan EBS mengikuti logo di belakang kursi siar. Di bawah tulisan EBS terdapat gambar abstrak berwarna-warni. Hanya dinginnya AC dan wangi pengharum ruangan rasa jeruk (kadang juga apel)  memenuhi studio siar yang tidak berubah.

15306030_383756231965784_6314735001917194240_n(1).jpg

Studio siar saat ini

Keluar dari studio satu, kita akan menemukan studio dua di sisi kiri pintu. Studio dua yang digunakan sebagai “rumah” dari EBS karena terdapat kasur, dapur dan toilet juga mengalami perubahan, meski tidak sebanyak studio satu dan siar. Namun kini, kasurnya sudah tidak saya jumpai lagi. Studio dua kini diisi dengan beberapa lemari “kiriman” studio satu, yang digunakan sebagai tempat penyimpanan berkas-berkas dan segala perlengkapan EBS.

Selama empat tahun menjadi bagian dari keluarga EBS, banyak hal yang saya dapatkan dan lakukan di EBS. EBS adalah “rumah” di kampus bagi saya, tempat belajar banyak hal mengenai dunia broadcasting dan mengenal banyak orang dengan ketertarikan dan aktivitas yang sama. Ketika menjadi pengurus tahun 2013-2015 saya banyak menghabiskan waktu di EBS. Dari pagi hingga pagi lagi saya di EBS. Libur kuliah ketika banyak teman-teman jurusan yang sudah mudik saya masih beraktivitas di EBS. Bulan ramadhan pun saya masih di EBS hingga H-7 atau bahkan H-3 sebelum lebaran. Bahkan saking saya anggapnya EBS sebagai rumah, pernah beberapa kali saya tidak mengikuti kelas karena keenakan tidur siang di EBS.

EBS memang telah banyak berubah mengikuti kehendak “si penghuni”. Namun bagi saya EBS tetaplah menjadi pilihan yang paling nyaman untuk berisitirahat sejenak di kampus ketika saya mengalami kelelahan setelah berjibaku dengan skripsi dan dosen pembimbing. Tetaplah menjadi “rumah” yang paling nyaman di kampus.

Berbahagialah dengan Umur dan Gelar Barumu Ayu Ramdhani S S.Psi

Hari ini, tepat 22 tahun yang lalu salah satu teman saya sedang diperjuangkan untuk lahir di dunia oleh ibunya. Ayu Ramdhani S, yang akhir Januari kemarin resmi menambahkan S.Psi dibelakang namanya berkat skripsinya yang membahas tentang Silariang. Tulisan ini saya buat sebagai kado sederhana (karena tanpa mengeluarkan budget. hahahah).

Kami dipertemukan oleh Radio Kampus EBS FM Unhas empat tahun lalu. Sama-sama berstatus sebagai anak magang. Bedanya, dia termasuk salah satu anak magang yang aktif kala itu. Saya? Juga terbilang aktif, jika dibandingkan dengan Aidil (salah satu teman magang dan teman angkatan di EBS). Ha-ha.

Mendeskripsikan dia sama halnya dengan membuka kuaci, gampang-gampang susah. Secara fisik, dia memiliki postur tubuh yang hampir sama dengan saya. Tinggi, berat badan dan tahi lalat yang tata letaknyapun hampir sama, di hidung. Bagaimana dengan karakternya? Orang-orang yang mengenal kami, melihat kami sebagai orang yang memiliki karakter yang juga sama. Sama-sama gila dan jailnya. Mungkin karena kami memiliki tahun lahir dan zodiak yang sama, sehingga membuat ikatan emotional kami lebih akrab dibading dengan yang lain (kata Izza, juga salah satu teman angkatan di EBS).

Dia termasuk orang yang hampir setiap hari saya temui ketika berada di kampus. Di luar kampus pun, tak jarang kami mengerjakan atau pergi ke suatu tempat bersama-sama. Bahkan teman-teman di jurusan mengira dia adalah pacar saya. Menanggapi hal tersebut, kami hanya tertawa ala artis yang sedang jadi buah bibir diacara-acara gosip. Duuuaaaaarrr

Ada banyak kejadian lucu (atau mungkin hanya menurut kami). Salah satunya dan yang paling sering terjadi adalah ketika ingin pergi makan siang, sore atau malam (karena biasanya di studio sampai malam) di Pak Man (warung makan andalan anak EBS) dan salah satu dari kami pasti selalu melupakan sesuatu. Entah itu ponsel, dompet, tas bahkan kunci motor sekalipun sering terlupa sehingga memaksa kami harus kembali ke studio beberapa kali sebelum benar-benar pergi ke warung makan. Tak hanya sampai disitu, dalam perjalanan pun kami biasa mengalami banyak hal-hal lucu (atau mungkin aneh) mulai dari hampir jatuh, hampir menabrak orang, sampai mengomentari hal-hal yang tidak penting yang kami temui di sepanjang jalan.

Kejadian lucu lainnya adalah tentang sebuah galon. Suatu hari ketika sedang berada di studio, ada senior yang datang mengunjungi EBS. Seperti biasa, ketika studio kedatangan senior, pengurus akan membuatkan kopi atau teh. Sayangnya kami kehabisan air galon pada saat itu. Sialnya lagi hanya ada kami berdua di studio. Mau tidak mau saya dan Ayu yang pergi membeli galon. Karena Ayu tidak mau dibonceng dengan galon, jadilah saya yang dibonceng Ayu. Sepanjang perjalanan dari workshop sampai EBS tak henti-hentinya kami tertawa. Menawari galon orang-orang yang lag kami lewati layaknya penjual galon.

Satu lagi kejadian lucu. Alhamdulillah, awal 2016 kemarin kami sama-sama tercatat sebagai penerima beasiswa Taspen. Bersama-sama mengurus berkas sana-sini. Sampai-sampai dimarahi oleh ibu kemahasiswaan karena mengumpulkan berkas dihari terakhir. Kejadian lucunya berawal ketika kami ingin pulang setelah seharian berada di kampus. Ba’da maghrib kami sama-sama jalan dari studio ke arah Jasbog (sekarang namanya Kudapan BNI). Beberapa minggu sebelumnya kami memang sudah menerima pengumuman kelulusan beasiswa, namun belum mendapatkannya. Padahal sudah 2 minggu lebih setelah pertemuan dengan pihak rektorat. Karena rasa penasaran, kami iseng-iseng singgah di ATM Jasbog untuk mengecek apakah beasiswa kami sudah masuk atau belum. Tanpa berpikir panjang saya memasukkan ATM ke mesin daaaaaaaaaaaaan spontan kami berteriak kegirangan melihat ATM yang sudah terisi (maklum kala itu kebetulan lagi tanggal tua). Kami loncat-loncat sambil say hi and thanks ke CCTV. Beruntunglah saat itu tidak ada orang yang melihat tingkah konyol kami. Ha-ha

Dan masih banyak cerita lucu lainnya yang tidak sempat saya ingat, karena sangking banyaknya kejadian lucu yang terjadi. (ini bukan pembelaan. Ha-ha)

Tak hanya momen lucu. Momen berbahagiapun ada. Salah satu moment yang paling membuat bahagia sekaligus bangga menjadi teman dekatnya ialah ketika dia dinyatakan lulus sebagai peserta KKN Tematik Sebatik 2015 silam. Saya masih ingat bagaimana reaksi saya mendengar kabar bahagia itu. Saat itu kebetulan memasuki bulan Ramadhan. Seperti biasa, kami tetap mengisi siaran. Siaran sahur sekalipun. Jadi, kami bersama dengan teman-teman yang lain menginap di studio. Sebenarnya yang siaran hanya dua atau tiga orang saja. Yang lainnya berfungsi sebagai tim hore dan koki dadakan. Ketika pengumuman, saya sedang berada di himpunan Sastra Ingris (karena saat itu juga bertepatan dengab Mubes himpunan). Iseng-iseng saya membuka website UPT KKN Unhas dan mencari pengumuman KKN Sebatik. Saya mengetik NIMnya dan menemukan namanya sebagai peserta yang lulus. Tanpa berfikir panjang, saya bergegas menuju studio tanpa takut dengan suasana jam satu pagi dari fakultas sastra ke studio EBS. Dari luar studio saya berteriak “Ayu lulusko“. Ayu dan teman-teman yang masih tidur ,terbangun dengan perasaan kaget dan tidak percaya. Langsung saja dia membuka website UPT KKN untuk memastikannya. Kami pada saat itu merayakannya dengan siaran sahur. (padahal saat itu bukan jadwal kami).

Sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin saya cerita tentang dia. Namun karena menurut saya hal tersebut cukup privasi, dan saya takut kalau dia membacanya dia mengeluarkan tanduknya dan tidak mempercayai saya lagi. Haha. Jadi mungkin hanya sampai disini saja. Untuk yang penasaran dengan sosok Ayu seperti apa, boleh diintip di instagramnya @ayuramdh (tapi dia menguncinya, jadi harus follow dulu. Wkwk) atau facebooknya Ayu Ramdhani S ataupun twitternya @ayuramdh

Sekali lagi saya hanya ingin mengucapkan selamat mengulang hari kelahiran. Selamat merefleksikan diri, dan selamat juga atas gelar barunya sebagai S.Psi (Sarjana Pakar Silariang). Berbahagialah sampai jodohmu datang.

Saya dan Ponsel Legenda

Beberapa waktu lalu beranda facebook saya lagi heboh dengan salah satu artikel yang membahas ponsel cerdas terbaru yang akan rilis akhir Februari ini. Banyak teman-teman yang membagikannya dengan berbagai macam caption. Berbeda dengan postingan sejenis yang selama ini saya lihat, kali ini tanpa pikir panjang saya langsung membuka artikel tersebut dan ternyata ponsel cerdas tersebut adalah besutan Nokia. Beberapa komentar senada muncul yang membuat saya tersenyum geli, “The King is Back”. Agak lucu memang, tapi menurut saya komentar tersebut bukanlah tanpa alasan, mengingat bahwa ponsel Nokia pernah merajai pasar ponsel di Indonesia sebelum ponsel cerdas datang. Saya adalah satu dari sekian juta orang Indonesia yang menggunakan ponsel Nokia dan setia menggunakannya hingga tahun 2015.

Sejak pertama kali menggunakan ponsel ketika duduk di bangku kelas 3 SMP tahun 2008 (atau 2009, lupa) hingga awal tahun 2015, terhitung sebanyak 3 kali saya mengganti ponsel dengan merek yang sama, Nokia. Semua keluarga saya pun menggunakan ponsel merek yang sama. Ponsel Nokia pertama saya adalah Nokia 7610. Ponsel tersebut terbilang hits dan unik dijamannya, karena bentuknya yang orang sebutnya sebagai ponsel belah ketupat dan sudah memiliki kamera, meski kualitas fotonya sangat jauh dari kamera ponsel cerdas jaman sekarang. Namun itu sudah membuat saya dan teman-teman ketika berfoto terlihat keren. Ditambah dengan gaya topi miring dengan posisi kamera ponsel dari atas sambil menaruh satu jari dibibir atau 2 jari yang membentuk peace menambah kesan gaul sebagai bocah SMP kala itu. Ha-ha. Selain kameranya, ada juga pemutar music MP3nya yang melengkapi kami sebagai anak gaul. Dengan bermodalkan bluetooth atau inframerah kami berbagi musik atau lagu yang sedang hits, meski ada beberapa teman yang pelit karena mereka membelinya di warnet atau tempat-tempat yang menjual lagu (10 ribu sudah dapat belasan lagu).

Memasuki masa putih abu-abu, hiburan saya sebagai anak remaja semakin bertambah dengan mengenal facebook dan twitter (meski sudah banyak teman-teman yang mengenalnya sejak SMP). Saya sangat beruntung karena saat itu ponsel saya ternyata sudah memiliki web browser, jadi dengan mudah saya mengakses facebook ataupun twitter tanpa ke warnet lagi. Hampir setiap waktu, kapan dan dimana saja selalu saya menyempatkan untuk menulis status di facebook atau twitter melalui ponsel saya. Ketika naik dikelas dua SMA saya mengganti ponsel saya karena sudah tidak berfungsi lagi. Ketika orang-orang mulai mengganti ponselnya dengan ponsel cerdas Blackberry kala itu, saya masih memilih menggunakan Nokia sebagai ponsel saya hingga memasuki kuliah.

Tahun 2013 saya kembali mengganti ponsel saya, karena kehilangan. Pada saat itu orang-orang sedang berbondong-bondong menggunakan ponsel cerdas android, blackberry maupun iPhone. Saya kala itu masih memutuskan untuk tetap menggunakan ponsel Nokia, Nokia Lumia tepatnya yang fitur-fiturnya hampir menyerupai android. Salah satu teman SMA saya bertanya kenapa saya masih menggunakan Nokia sementara orang-orang telah beralih menggunakan ponsel cerdas. Jawaban saya saat itu sederhana, karena menurut saya Nokia memiliki banyak kelebihan dibanding ponsel cerdas, seperti memiliki daya baterai tahan lebih lama, tahan banting dan yang pasti harganya terjangkau. Kala itu media sosial yang hanya bisa diakses dengan ponsel cerdas pun belum seramai saat ini.

Hingga akhirnya memasuki awal 2015 ketika saya kembali kehilangan ponsel untuk kedua kalinya, karena perkembangan media sosial yang semakin menarik dan diminati orang-orang yang tidak bisa diakses melalui ponsel Nokia saya memutuskan untuk beralih ke android. Tidak seperti kebanyak orang yang memilih Samsung atau iPhone, saya justru memilih Lenovo sebagai ponsel cerdas pertama saya. Dengan fitur-fitur yang hampir sama dengan ponsel cerdas kebanyakan, namun harga Lenovo jauh lebih terjangkau. Selain itu alasan saya membeli ponsel merek Lenovo karena ingin menyamakan dengan merek laptop saya yang juga Lenovo.

Akhir tahun 2016 kemarin saya kembali kehilangan ponsel cerdas yang hampir dua tahun menemani saya kapan dan dimanapun. Saya memutuskan untuk mencoba tidak meminta kepada orang tua demi membeli ponsel, mengingat saat ini saya sudah melewati masa wajib kuliah (namun belum lulus. Pfftt) dan juga baru saja membayar uang SPP untuk semester-sekian. Hingga beberapa waktu lalu, isu tentang ponsel Nokia yang akan merilis kembali ponselnya dalam versi android membuat saya sedikit ngiler. Karena pertimbangan tidak ingin merepotkan orangtua, saya memutuskan untuk menabung demi membeli ponsel baru nanti.

Ponsel Cerdas; Simbol Gaya Hidup Masa Kini?

Siapa sih yang tidak kenal dengan barang yang sudah tak jadi mewah ini? Yaa, barang ini sudah tidak lagi tergolong barang mewah karena hampir semua orang kini telah memilikinya. Mulai dari yang dewasa hingga anak-anak menggunakan ponsel cerdas dalam keseharaiannya dan menjadikannya sebagai kebutuhan gaya hidup masa kini. Kita dengan mudah menemukan orang-orang dengan ponsel cerdas digenggamannya. Di jalan, di rumah, di tempat perbelanjaan, bahkan saat nonkrong dengan teman-temanpun, benda satu ini tidak lepas dari genggaman. Mungkin sulit membayangkan bagaimana kita tanpa ponsel cerdas hidup dimasa kini. Sehari saja tanpa ponsel cerdas orang akan berkata ‘separuh jiwaku pergi’. Lalu bagaimana dengan saya yang sudah hampir 2 bulan tidak memilki ponsel cerdas? Hampa? Jelas! Ketiadaan ponsel cerdas membuat saya terlambat mengikuti obrolan yang ada digrup Line dan terkadang membuat saya galau. Bagaimana tidak, saat ini komunikasi dan penyebaran informasi lebih banyak dilakukan melalui ponsel cerdas, media sosial lebih tepatnya. Kebayang dong bagaimana repotnya tanpa ponsel cerdas.
Beberapa tahun belakangan memang ponsel cerdas telah menjadi gaya hidup, bahkan beberapa orang mengkategorikannya sebagai kebutuhan yang wajib untuk dipenuhi. Saya pernah membaca salah satu postingan di media sosial yang mengatakan bahwa penggunaan ponsel cerdas didunia saat ini tengah berkembang pesat dibanding 10 tahun yang lalu dan Indonesia menjadi salah satu negara dengan penggunaan ponsel cerdas terbanyak dan terlama dalam penggunaanya. Tentu ini bukanlah hal yang tidak bisa dihindarkan mengingat bahwa yang membuat ponsel cerdas begitu sangat populer ialah fitur-fitur yang ditawarkan sangat bervariasi dibanding dengan ponsel terdahulunya yang memang fungsi utamanya hanyalah untuk menelfon dan mengirim pesan pendek. Ponsel berevolusi menjadi ‘cerdas’ dengan seribu satu macam kegunaannya mulai dari menelfon, memotret, sampai dengan fungsi-fungsi yang dulunya hanya bisa digunakan pada laptop, kini disematkan pada ponsel cerdas tersebut. Tentu ini yang menjadi salah satu alasan kenapa ponsel cerdas begitu diminati oleh orang-orang. Selain lebih praktis dengan berbagai aplikasi yang ditawarkan, ponsel cerdas ternyata menjadi alat interaksi baru dengan orang-orang terdekat maupun yang terjauh sekalipun. Media sosial adalah satu dari sekian banyak fitur yang ditawarkan oleh ponsel cerdas yang paling diminati dan paling membedakan dengan ponsel sebelumnya.
Dengan berbagai macam media sosial yang dapat diakses dengan mudahnya di ponsel cerdas, ternyata disadari atau tidak hal tersebut sedikit banyak mengubah perilaku interaksi sosial kita. Saya sering melihat atau bahkan sayapun sering menjadi pelaku komunikasi melalui ponsel cerdas, padahal orang-orang yang sedang berkomunikasi melalui ponsel cerdas tersebut sangatlah berdekatan jaraknya. Selain itu ponsel cerdas juga tak bisa dipungkiri telah menjadi simbol kekinian bagi para generasi saat ini. Ketika kita tidak memiliki ponsel cerdas maka kita akan ketinggalan dengan apa yang terjadi saat ini. Sayapun merasakan hal tersebut ketika dihari-hari pertama saya kehilangan ponsel cerdas bahkan hingga kini, saya kesulitan mengikuti apa yang sedang terjadi saat ini atau kegiatan apa yang akan berlangsung. Contoh lain ketika saya mengikuti suatu forum atau berkumpul dengan teman-teman, saya merasa terasing ketika orang-orang sedang asyiknya bermain dengan ponsel cerdasnya. Mereka dan mungkin juga saya ketika memiliki ponsel cerdas menertawakan hal yang sama namun tidak tertawa bersama.
Melalui ponsel cerdas orang-orang berlomba-lomba menjadi yang paling kekinian agar diterima dalam kelompok. Entah magnet apa yang membuat ponsel cerdas ini mengubah gaya hidup masa kini. Tapi satu hal yang pasti bahwa ponsel cerdas dibuat untuk memudahkan kerja-kerja manusia khusunya dalam hal komunikasi. Ponsel cerdas bisa membuat orang yang jauh menjadi dekat, namun ternyata ponsel cerdas juga bisa membuat orang yang dekat menjadi jauh.

Sajak Rindu

“Jika rindu ibarat malam dan saya adalah pagi, maka engkau adalah matahari yg mengusir malam & menyapaku setiap hari.”

“ada hal-hal yang sulit terucap, menyiksa dan membuat kita bertingkah aneh, tapi kita menikmatinya sebagai sebuah kewajaran. Rindu misalnya.”

“Rintik-rintik hujan yang jatuh selalu membawa titik-titik rindu yang jauh.”

Sepenggal Percakapan Lama

Hanya sepenggal percakapan lama.

Sepenggal percakapan lama yang bisa melengkungkan senyum dibibir

Sepenggal percakapan lama yang menggelitikku hingga terdengar suara tawa kecil antara malu dan bahagia

Sepenggal percakapan lama yang malam ini membawa saya ke waktu dimana aku dan kamu masih menjadi kita

Ahh, sudahlah! Tak usah dipikir

Ini hanya sepenggal cerita lama