Saya dan Ponsel Legenda

Beberapa waktu lalu beranda facebook saya lagi heboh dengan salah satu artikel yang membahas ponsel cerdas terbaru yang akan rilis akhir Februari ini. Banyak teman-teman yang membagikannya dengan berbagai macam caption. Berbeda dengan postingan sejenis yang selama ini saya lihat, kali ini tanpa pikir panjang saya langsung membuka artikel tersebut dan ternyata ponsel cerdas tersebut adalah besutan Nokia. Beberapa komentar senada muncul yang membuat saya tersenyum geli, “The King is Back”. Agak lucu memang, tapi menurut saya komentar tersebut bukanlah tanpa alasan, mengingat bahwa ponsel Nokia pernah merajai pasar ponsel di Indonesia sebelum ponsel cerdas datang. Saya adalah satu dari sekian juta orang Indonesia yang menggunakan ponsel Nokia dan setia menggunakannya hingga tahun 2015.

Sejak pertama kali menggunakan ponsel ketika duduk di bangku kelas 3 SMP tahun 2008 (atau 2009, lupa) hingga awal tahun 2015, terhitung sebanyak 3 kali saya mengganti ponsel dengan merek yang sama, Nokia. Semua keluarga saya pun menggunakan ponsel merek yang sama. Ponsel Nokia pertama saya adalah Nokia 7610. Ponsel tersebut terbilang hits dan unik dijamannya, karena bentuknya yang orang sebutnya sebagai ponsel belah ketupat dan sudah memiliki kamera, meski kualitas fotonya sangat jauh dari kamera ponsel cerdas jaman sekarang. Namun itu sudah membuat saya dan teman-teman ketika berfoto terlihat keren. Ditambah dengan gaya topi miring dengan posisi kamera ponsel dari atas sambil menaruh satu jari dibibir atau 2 jari yang membentuk peace menambah kesan gaul sebagai bocah SMP kala itu. Ha-ha. Selain kameranya, ada juga pemutar music MP3nya yang melengkapi kami sebagai anak gaul. Dengan bermodalkan bluetooth atau inframerah kami berbagi musik atau lagu yang sedang hits, meski ada beberapa teman yang pelit karena mereka membelinya di warnet atau tempat-tempat yang menjual lagu (10 ribu sudah dapat belasan lagu).

Memasuki masa putih abu-abu, hiburan saya sebagai anak remaja semakin bertambah dengan mengenal facebook dan twitter (meski sudah banyak teman-teman yang mengenalnya sejak SMP). Saya sangat beruntung karena saat itu ponsel saya ternyata sudah memiliki web browser, jadi dengan mudah saya mengakses facebook ataupun twitter tanpa ke warnet lagi. Hampir setiap waktu, kapan dan dimana saja selalu saya menyempatkan untuk menulis status di facebook atau twitter melalui ponsel saya. Ketika naik dikelas dua SMA saya mengganti ponsel saya karena sudah tidak berfungsi lagi. Ketika orang-orang mulai mengganti ponselnya dengan ponsel cerdas Blackberry kala itu, saya masih memilih menggunakan Nokia sebagai ponsel saya hingga memasuki kuliah.

Tahun 2013 saya kembali mengganti ponsel saya, karena kehilangan. Pada saat itu orang-orang sedang berbondong-bondong menggunakan ponsel cerdas android, blackberry maupun iPhone. Saya kala itu masih memutuskan untuk tetap menggunakan ponsel Nokia, Nokia Lumia tepatnya yang fitur-fiturnya hampir menyerupai android. Salah satu teman SMA saya bertanya kenapa saya masih menggunakan Nokia sementara orang-orang telah beralih menggunakan ponsel cerdas. Jawaban saya saat itu sederhana, karena menurut saya Nokia memiliki banyak kelebihan dibanding ponsel cerdas, seperti memiliki daya baterai tahan lebih lama, tahan banting dan yang pasti harganya terjangkau. Kala itu media sosial yang hanya bisa diakses dengan ponsel cerdas pun belum seramai saat ini.

Hingga akhirnya memasuki awal 2015 ketika saya kembali kehilangan ponsel untuk kedua kalinya, karena perkembangan media sosial yang semakin menarik dan diminati orang-orang yang tidak bisa diakses melalui ponsel Nokia saya memutuskan untuk beralih ke android. Tidak seperti kebanyak orang yang memilih Samsung atau iPhone, saya justru memilih Lenovo sebagai ponsel cerdas pertama saya. Dengan fitur-fitur yang hampir sama dengan ponsel cerdas kebanyakan, namun harga Lenovo jauh lebih terjangkau. Selain itu alasan saya membeli ponsel merek Lenovo karena ingin menyamakan dengan merek laptop saya yang juga Lenovo.

Akhir tahun 2016 kemarin saya kembali kehilangan ponsel cerdas yang hampir dua tahun menemani saya kapan dan dimanapun. Saya memutuskan untuk mencoba tidak meminta kepada orang tua demi membeli ponsel, mengingat saat ini saya sudah melewati masa wajib kuliah (namun belum lulus. Pfftt) dan juga baru saja membayar uang SPP untuk semester-sekian. Hingga beberapa waktu lalu, isu tentang ponsel Nokia yang akan merilis kembali ponselnya dalam versi android membuat saya sedikit ngiler. Karena pertimbangan tidak ingin merepotkan orangtua, saya memutuskan untuk menabung demi membeli ponsel baru nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s